BANGKA BELITUNG, Beritaseindo.com – Para petani kelapa sawit di Pulau Bangka mengeluhkan merosotnya harga Tandan Buah Segar (TBS) yang dinilai semakin memberatkan kondisi ekonomi mereka.
Selain harga yang turun, para petani juga menyoroti adanya perbedaan harga yang cukup signifikan antara Pulau Bangka dan Pulau Belitung.
MK, petani sawit asal Kecamatan Lubuk Besar, Kabupaten Bangka Tengah, mengungkapkan bahwa selisih harga TBS antara Bangka dan Belitung bisa mencapai sekitar Rp1.000 per kilogram.
“Harga antara di Bangka dan Belitung itu begitu jauh berbeda, menyentuh angka 1000 rupiah,” ujar MK kepada wartawan.
Keluhan tersebut tidak hanya datang dari petani di Bangka Tengah. Sejumlah petani di wilayah Kabupaten Bangka dan Bangka Selatan juga merasakan kondisi serupa, di mana harga TBS dinilai tidak sebanding dengan daerah lain di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Andi, petani sawit asal Sungailiat, Kabupaten Bangka, mempertanyakan peran pemerintah daerah dalam mengatasi ketimpangan harga tersebut.
Ia menilai hingga saat ini belum ada langkah nyata untuk melindungi petani sawit kecil yang bergantung pada hasil kebun.
“Dimana peran pemerintah Bangka Belitung. Kenapa ketimpangan harga antara Bangka dan Belitung sampai begitu jauh, padahal satu provinsi,” ucap Andi dengan nada tinggi.
Menurutnya, kurangnya perhatian dari pemerintah, baik dari pihak eksekutif maupun legislatif, membuat para petani merasa tidak memiliki perlindungan terhadap fluktuasi harga sawit.
“Mohon kiranya pemerintah bisa bantu para petani kecil yang hanya punya 2–3 hektar, karena kami hanya bergantung dengan sawit. Timah sudah susah, tidak ada harapan lain,” tambahnya.
Keluhan serupa juga disampaikan oleh petani sawit di Kabupaten Bangka Barat.
Salah seorang petani di Desa Neknang mengatakan bahwa sebagian besar masyarakat di wilayahnya menggantungkan hidup dari perkebunan sawit, sehingga penurunan harga sangat berdampak pada perekonomian keluarga.
“Kami ini tak ada kerja lain selain di kebun, jadi yang kami harapkan dengan pemerintah ya bantu lah perjuangkan harga ini. Kami dengar juga Belitung harganya tinggi,” ungkapnya.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dari Fraksi Golkar, Eddy Iskandar, menegaskan bahwa pihaknya akan menindaklanjuti keluhan para petani terkait perbedaan harga TBS antara Bangka dan Belitung.
“DPRD akan mendorong pemerintah daerah untuk melakukan evaluasi terhadap mekanisme penetapan harga sawit agar lebih berpihak kepada petani,” tegasnya.
Eddy juga menilai perlu adanya pengawasan terhadap perusahaan dan pabrik kelapa sawit agar harga yang diterima petani tetap mengacu pada ketentuan yang berlaku.
“Untuk pabrik kelapa sawit untuk ikut harga acuan yang sudah disepakati bersama dengan dinas pertanian,” pintanya.
Dengan kondisi harga yang terus menurun, para petani berharap pemerintah provinsi maupun kabupaten segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga TBS dan mengurangi kesenjangan harga antar wilayah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Penulis: Renaldi









