Home / Bangka Belitung / Daerah / Headline / Opini

Senin, 18 Mei 2026 - 20:49 WIB

Pariwisata Bangka Belitung: Pulih Tetapi Belum Terhubung

Oleh: Dalila, Tiyut, Faarisa Nurjihaan B, Rogrius Sinulingga
Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Bangka Belitung

Pemulihan pariwisata Bangka Belitung pascapandemi mulai menunjukkan tren positif tetapi belum sepenuhnya stabil. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada September 2025 Wisatawan Nusantara yang melakukan perjalanan tujuan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada September 2025 tercatat sebanyak 376,20 ribu perjalanan, meningkat 5,50 persen dari bulan sebelumnya yang berjumlah 356,60 ribu perjalanan.

Jumlah tamu yang menginap di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada September 2025 tercatat sebanyak 52.262 orang.

Jumlah ini naik sebesar 1,32 persen dibandingkan jumlah tamu Agustus 2025 yang sebanyak 51.579 orang. Pada September 2025 jumlah tamu Domestik sebanyak 51.416 orang, meningkat sebesar 2,10 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebanyak 50.359 orang. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung September 2025 sebesar 26,60 persen, menurun sebesar 0,18 poin dibandingkan dengan TPK Agustus 2025 yang tercatat 26,78 persen.

Untuk TPK hotel nonbintang pada September 2025 sebesar 15,08 persen naik 0,56 poin dibandingkan dengan TPK Agustus 2025 yang tercatat sebesar 14,52 persen.
Pada September 2025,

Rata-Rata Lama Menginap Tamu (RLMT) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tercatat 1,49 malam. RLMT hotel bintang tercatat 1,57 malam dan RLMT hotel nonbintang tercatat 1,26 malam.

Data tersebut menunjukkan pemulihan memang terjadi tetapi belum cukup kuat untuk menciptakan stabilitas dan daya saing jangka panjang.

Dengan melihat lebih dalam kondisi tersebut, persoalan aksesibilitas menjadi titik krusial yang tidak dapat diabaikan.

Menurut Oka A. Yoeti melalui konsep 3A pariwisata (2008) yaitu attraction, accessibility, dan amenities bahwa keberhasilan destinasi sangat ditentukan oleh keterpaduan ketiga elemen tersebut. Bangka Belitung memiliki keunggulan kuat pada aspek attraction terutama wisata bahari.

Namun, keterbatasan accessibility masih menjadi kendala utama. Frekuensi penerbangan yang terbatas serta biaya perjalanan yang relatif tinggi menciptakan hambatan struktural.

Dalam konteks ini aksesibilitas tidak hanya membatasi jumlah kunjungan tetapi juga membentuk persepsi destinasi sebagai mahal dan kurang praktis.

Baca Juga I  PT DAK Buka Lelang Besi Scrap Eks Pekerjaan Reparasi dan Docking

Akibatnya wisatawan cenderung memilih destinasi lain yang lebih mudah dijangkau meskipun tidak selalu lebih unggul secara daya tarik.

Dalam keterbatasan tersebut dinamika permintaan pariwisata juga menunjukkan karakteristik yang belum sepenuhnya kuat.

Meskipun jumlah perjalanan wisatawan mencapai ratusan ribu per bulan struktur permintaan pariwisata Bangka Belitung masih belum seimbang. Data BPS menunjukkan dominasi wisatawan domestik dengan jumlah tamu hotel domestik mencapai lebih dari 51 ribu orang pada September 2025.

Ketergantungan pada pasar domestik khususnya segmen perjalanan dinas dan Meeting, Incentive, Convention, Exhibition (MICE) menciptakan kerentanan struktural. Ketika terjadi penyesuaian anggaran pemerintah seperti saat ini dampaknya langsung terasa pada tingkat hunian hotel. Dengan kata lain persoalan utama bukan sekadar jumlah wisatawan tetapi kualitas dan diversifikasi pasar yang belum terbentuk.

Selanjutnya, persoalan tersebut tidak terlepas dari bagaimana aspek kelembagaan bekerja dalam mendukung sektor ini. Perubahan kebijakan perizinan usaha menunjukkan adanya upaya reformasi tata kelola.

Namun, dalam praktiknya masih terdapat kesenjangan antara kebijakan dan implementasi. Menurut I Gede Pitana dalam Pengantar Ilmu Pariwisata (2009), keberhasilan pembangunan pariwisata sangat bergantung pada kapasitas institusi dan koordinasi antar aktor.

Pada Bangka Belitung persoalan utama bukan pada regulasi melainkan pada keterbatasan sosialisasi, belum meratanya pendampingan pelaku usaha, dan lemahnya koordinasi lintas sektor. Kondisi ini menciptakan implementation gap yang berdampak langsung pada kecepatan adaptasi sektor dan minat investasi.

Implikasi dari berbagai keterbatasan tersebut kemudian tercermin pada tingkat daya saing destinasi. Secara komparatif Bangka Belitung memiliki keunggulan alam yang signifikan.

Namun, keunggulan tersebut belum sepenuhnya bertransformasi menjadi daya saing. Indikasinya terlihat dari TPK yang masih rendah (sekitar 26%) dan lama tinggal wisatawan yang pendek (±1,5 malam). Hal ini menunjukkan bahwa wisatawan datang tetapi belum cukup lama tinggal atau kembali.

Dalam konteks ini konsep Sapta Pesona (Kemenparekraf, 2012) menjadi relevan. Pengalaman wisata yang kuat seharusnya dibangun melalui unsur aman, bersih, ramah, dan berkesan. Namun implementasinya di lapangan belum merata.

Baca Juga I  Kakek Berusia 76 Tahun Pelaku Persetubuhan Terhadap Anak Berhasil Diamanakan Polres Bangka Tengah

Selain itu, menurut I Gede Pitana pendekatan community based tourism menjadi kunci dalam menciptakan pengalaman autentik. Sayangnya pengembangan pariwisata di daerah ini masih cenderung top-down, sehingga peran masyarakat belum optimal.

Seiring dengan perkembangan era digital, tantangan tersebut semakin kompleks karena berkaitan dengan aspek branding dan positioning destinasi. Pada era sekarang daya saing destinasi tidak hanya ditentukan oleh fisik tetapi juga narasi digital dan positioning.

Wisatawan modern sangat dipengaruhi oleh media sosial, platform perjalanan (OTA), dan storytelling destinasi. Namun, Bangka Belitung belum memiliki branding yang kuat dan konsisten.

Destinasi ini belum jelas diposisikan apakah sebagai wisata bahari premium, geowisata (UNESCO geopark Belitung) atau destinasi keluarga.

Padahal digital tourism memungkinkan destinasi dengan akses terbatas tetap kompetitif melalui penguatan citra dan pengalaman virtual.

Tanpa strategi branding yang jelas promosi hanya akan bersifat sporadis dan tidak mampu membangun top of mind di benak wisatawan.

Jika seluruh dinamika tersebut ditarik dalam satu benang merah terlihat bahwa persoalan utama terletak pada belum terbangunnya keterhubungan antar elemen.

Jika dilihat secara menyeluruh persoalan utama pariwisata Bangka Belitung bukan pada kekurangan potensi melainkan pada belum terhubungnya elemen-elemen utama yaitu akses terbatas sehingga membatasi pergerakan wisatawan, kelembagaan belum optimal sehingga memperlambat adaptasi serta daya saing lemah sehingga tidak mendorong kunjungan ulang. Ketiganya ini saling berkaitan dan tidak dapat diselesaikan secara parsial.

Pada akhirnya, kondisi ini menegaskan bahwa arah kebijakan ke depan perlu difokuskan pada integrasi, bukan sekadar ekspansi. Bangka Belitung tidak kekurangan potensi tetapi masih menghadapi tantangan dalam mengubah potensi tersebut menjadi kinerja yang nyata.

Kunci ke depan bukan sekadar promosi atau pembangunan infrastruktur baru tetapi memperkuat konektivitas, meningkatkan kapasitas kelembagaan, membangun pengalaman wisata berbasis masyarakat, serta memperjelas branding destinasi melalui digital tourism.

Tanpa integrasi tersebut pemulihan akan tetap berjalan tetapi lambat. Sebaliknya dengan sinergi yang kuat Bangka Belitung berpeluang menjadi destinasi yang tidak hanya pulih tetapi juga kompetitif dan berkelanjutan.

Share :

Baca Juga

Bangka Belitung

DPRD Bateng Gelar Paripurna Penandatanganan Nota Kesepakatan Perubahan KUA dan PPAS APBD Bateng Tahun Anggaran 2025

Bangka Belitung

DPRD Babel Kawal Tuntutan Masyarakat Delapan Desa terhadap PT Gunung Maras Lestari

Bangka Belitung

Bupati Algafry Rahman Hadiri Apel Kesiapsiagaan Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Tahun 2025

Bangka Belitung

Wabup Efrianda Hadiri Kegiatan Peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW di Desa Kulur Ilir Lubuk Besar

Bangka Belitung

Bupati Algafry Rahman Serahkan Bantuan Atensi dengan Total 592 Juta Rupiah

Bangka Belitung

Gubernur Hidayat Arsani Terima Kunjungan Pangdam II Sriwijaya Mayjen TNI Ujang Darwis

Bangka Belitung

Bupati Algafry Rahman Hadiri Silaturahmi Pemkab Bateng Bersama Bank Syariah Indonesia Pangkalpinang

Bangka Belitung

Bupati Algafry Rahman Hadiri Kegiatan Pembersihan Ruas Jalan Pulau Pelepas Pangkalanbaru oleh BPJN Babel