Sisa Senja di Pinggiran Hutan Desa Kemuja
Oleh: Fadillah Sabri
Tidak semua orang sanggup menua dengan jernih. Lebih sedikit lagi yang mampu menua sambil merawat ingatan, lalu mengubahnya menjadi kesaksian yang hangat bagi orang lain. Di situlah kekuatan Senja yang Tersisa karya Suplan Azhari.
Buku ini bukan sekadar memoar seorang lelaki yang menoleh ke belakang pada usia senja, melainkan ruang batin tempat perantauan, aktivisme, perjuangan daerah, dan cinta berjumpa dalam alur yang tenang, tetapi membekas.
Saya membaca buku ini bukan sebagai pembaca yang benar-benar jauh. Ada simpul kedekatan yang segera terasa, meskipun saya dan penulis dipisahkan oleh rentang usia lebih dari dua puluh tahun. Kami dibentuk oleh Yogyakarta yang berbeda zaman. Yogyakarta yang dihidupi Suplan Azhari pada era 1966-1970-an tentu bukan Yogyakarta yang saya kenal pada 1990-an. Kota itu mungkin tetap menyimpan langit yang sama, tetapi watak zamannya berubah.
Cara mahasiswa merantau berubah, cara anak muda merawat cita-cita berubah, bahkan cara menanggung rindu pun berubah. Namun justru dari jarak generasi itulah saya menemukan satu kedekatan yang lebih hakiki: semangat anak rantau, keberanian berorganisasi, dan keyakinan bahwa ilmu harus kembali menjadi makna bagi tanah asal.
Sebagai sesama alumni HMI, saya membaca Senja yang Tersisa bukan semata-mata sebagai kisah pribadi, melainkan sebagai jejak seorang kader. Pada diri Suplan Azhari, aktivisme tidak tampak sebagai hiasan masa muda yang kemudian ditinggalkan, tetapi sebagai laku hidup. Ada idealisme yang tidak gaduh, ada kepekaan sosial yang tidak dibuatbuat, ada semangat pengabdian yang terasa mengalir di balik kisah-kisah yang ia tuturkan.
Buku ini seakan menegaskan bahwa HMI, dalam pengertian terdalamnya, bukan hanya tempat berhimpun, melainkan tempat watak ditempa: watak berpikir, watak berjuang, dan watak menjaga nyala pengabdian ketika usia terus bergerak ke senja. Kedekatan saya dengan kisah ini bertambah ketika buku membawa pembaca ke Yogyakarta. Kota itu bagi banyak orang bukan hanya tempat belajar, tetapi tempat dibentuk.
Saya tahu benar bahwa bagi anak-anak rantau, Yogyakarta adalah sekolah kehidupan yang tidak tertulis. Dan ketika nama asrama ISBA muncul sebagai tempat tinggal penulis selama kuliah, saya merasa sedang memasuki ruang yang sangat akrab. Asrama seperti itu bukan sekadar tempat singgah.
Ia adalah kawah kecil tempat solidaritas diuji, mimpi dipelihara, dan kesederhanaan mengajarkan daya tahan. Di kamar-kamar sempit seperti itulah biasanya lahir percakapan panjang, kelakar yang menutup kekurangan, dan cita-cita yang diam-diam jauh lebih besar daripada ukuran ruangnya.
Salah satu bagian yang paling menggugah saya dalam buku ini adalah kisah penulis bersama kawan-kawannya yang menggagas pembentukan Provinsi Bangka Belitung pada 1971. Pada titik ini, memoir Suplan Azhari tidak lagi hanya berdiri sebagai kisah personal, tetapi naik derajat menjadi serpihan sejarah daerah.
Pembaca diajak melihat bahwa kecintaan pada tanah asal tidak berhenti sebagai rasa haru, tetapi dapat tumbuh menjadi gagasan politik, gerakan moral, dan cita-cita kolektif yang panjang umurnya.
Bagian itu mengguncang ingatan saya sendiri. Saat membacanya, saya seperti ditarik pulang ke 1999, ketika saya kembali dari Yogyakarta ke Bangka. Pada masa itu, bersama kawan-kawan pemuda Bangka dan Pangkalpinang, saya ikut memberikan usulan untuk membentuk Presidium Pembentukan Provinsi Bangka Belitung. Bagi saya, momen itu bukan sekadar aktivitas organisasi atau gerak kepemudaan biasa. Ia adalah ikhtiar sejarah: menyambung cita-cita yang telah lebih dahulu dinyalakan oleh generasi sebelumnya.
Apa yang digagas Suplan Azhari dan kawan-kawannya pada 1971, dalam pembacaan saya, menemukan kelanjutannya pada gerakan kami di 1999. Sejarah memang sering bergerak seperti estafet: satu generasi menyalakan api, generasi berikutnya menjaga agar api itu tidak padam. Karena itu, ketika Bangka Belitung akhirnya resmi menjadi provinsi, saya membacanya bukan sekadar sebagai keberhasilan administratif, melainkan sebagai kemenangan ingatan dan ketekunan kolektif.
Secara hukum, pembentukan provinsi ini ditetapkan melalui Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2000 tentang Pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yang tercatat dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 217 dan mulai berlaku pada 4 Desember 2000. Jadi, yang terwujud pada tahun 2000 itu sesungguhnya adalah buah dari mimpi panjang lintas generasi. Di sinilah Senja yang Tersisa memperoleh makna yang lebih luas daripada sekadar memoar.
Buku ini menjadi ruang tempat jejak-jejak perjuangan yang tercecer dikumpulkan kembali, agar generasi sesudahnya tidak lupa bahwa sebuah provinsi tidak lahir hanya dari dokumen resmi, tetapi juga dari percakapan yang tekun, gagasan yang dijaga, dan orangorang yang rela memikul harapan daerahnya dalam sunyi.
Sejarah resmi memang penting, tetapi memoir seperti ini mengingatkan kita bahwa di balik sejarah resmi selalu ada sejarah batin, dan sering kali justru di sanalah letak kemanusiaannya. Namun, menariknya, buku ini tidak tenggelam dalam heroisme perjuangan daerah. Ia tetap hangat karena memberi ruang pada sisi paling lembut dalam kehidupan penulis: kisah cintanya.
Dan di sinilah, menurut saya, Senja yang Tersisa menjadi bukan hanya penting, tetapi juga indah. Kisah perjuangan cinta Suplan Azhari dengan Ika Chaerotika, adik tingkatnya, gadis Tasikmalaya yang kemudian menjadi istrinya, merupakan salah satu pusat emosi buku ini.
Kisah itu tidak menarik hanya karena berakhir di pelaminan, tetapi karena jalan menuju ke sana penuh liku-liku, penuh jarak, penuh penantian, dan penuh getar khas cinta remaja yang tumbuh dalam kesungguhan. Dari Bangka ke Yogyakarta, dari Tasikmalaya ke Jakarta, cinta itu berjalan bersama waktu, tetapi tidak kehilangan nyalanya.
Yang membuat kisah ini demikian kuat ialah karena ia tidak hadir sebagai tempelan sentimental. Ia tumbuh di tengah perantauan, di sela aktivisme, dalam sempitnya hidup mahasiswa, dan di antara kegelisahan masa muda yang tidak selalu mudah. Ada rindu, ada keraguan, ada luka kecil, ada harapan yang harus dijaga lama.
Tetapi semua itu tidak membatalkan kesungguhan. Justru karena menempuh jalan yang tidak lurus itulah cinta mereka terasa matang. Di zaman yang serba cepat ini, ketika banyak hal lekas dinyalakan dan lekas pula dipadamkan, kisah Suplan dan Ika menghadirkan sesuatu yang terasa langka: ketekunan hati.
Bagi saya, di situlah keseluruhan keindahan buku ini berada. Senja yang Tersisa memperlihatkan bahwa hidup tidak hanya dibangun oleh gagasan besar dan peristiwa sejarah, tetapi juga oleh hal-hal yang paling sunyi dan paling setia dijaga: persahabatan, daerah asal, idealisme, ingatan, dan satu nama yang disimpan lama di dalam hati.
Suplan Azhari seakan hendak mengatakan bahwa idealisme tidak meniadakan cinta, sebagaimana cinta tidak harus menghalangi perjuangan. Keduanya dapat tumbuh bersama dalam hidup yang dijalani dengan sungguh-sungguh.
Pada akhirnya, Senja yang Tersisa adalah buku tentang apa yang tetap hidup ketika usia menua: api HMI, cinta kepada Bangka Belitung, kenangan akan Yogyakarta, persaudaraan di asrama, dan kesetiaan kepada perempuan yang sejak muda telah dipilih hatinya.
Saya membacanya bukan hanya sebagai memoar seorang senior, tetapi sebagai kesaksian lintas generasi tentang bagaimana hidup yang dijalani dengan tekun akan selalu meninggalkan cahaya.
Dan mungkin, yang paling berharga dari hidup memang bukan semata apa yang berhasil kita capai, melainkan apa yang tetap kita jaga hingga senja.
Senja yang tersisa, kuulas ulang di Pundok Kebun Atok Kulop di pinggir hutan Desa Kemuja sehabis Asar hingga menuju sisa senja Ahad, 5 April 2026.









